Pages

Jumat, 24 Mei 2013

Tahun Ajaran Depan, SD Bebas dari Ujian Nasional

Jakarta - Ujian nasional (UN) ditiadakan bagi sekolah dasar (SD) mulai tahun ajaran 2013/2014.

Mulai tahun depan, siswa SD/sederajat yang hendak naik jenjang pendidikan ke SMP/sederajat tidak perlu lagi mengikuti UN, karena pemerintah secara resmi menghapus UN untuk jenjang SD. Kebijakan tersebut muncul sebagai konsekuensi penerapan kurikulum baru yang berbasis tematik integratif.

Penghapusan UN SD ini tertuang dalam Pasal 67 Ayat 1a PP No. 32/2013 tentang Perubahan atas PP No. 19/2005 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal itu berbunyi: ujian nasional untuk satuan pendidikan jalur formal pendidikan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan untuk SD/MI/SDLB atau bentuk lain yang sederajat.

Dalam PP No. 32/2013, yang dihapus adalah UN. Namun, untuk sistem evaluasi akhir akan dijalankan oleh masing-masing satuan pendidikan. Merujuk pada PP itu, yang disebut UN adalah penugasan evaluasi akhir yang dilakukan oleh Kemendikbud kepada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Berdasarkan ketentuan itu, sistem evaluasi akhir di SD mulai tahun depan bisa saja masih tetap ada, tetapi tidak lagi berbentuk UN dan tidak dikendalikan Kemendikbud.

Selain bentuknya bakal berubah, fungsi ujian akhir nanti juga bukan lagi meluluskan atau tidak meluluskan siswa seperti saat ini dan diharapkan bisa lebih meningkatkan mutu pendidikan dasar.

Terkait penghapusan UN bagi SD ini, pakar dan konsultan pendidikan Munif Chatib menilai langkah ini sejalan dengan kurikulum baru yang akan diterapkan Juli 2013.
"Dengan penerapan kurikulum pendidikan yang baru, pelaksanaan UN menjadi tidak penting lagi. Harusnya bukan hanya UN SD yang dihapus, namun untuk seluruh jenjang," katanya berharap.

Dia berpendapat, penerapan kurikulum baru sebenarnya menjadi jalan masuk untuk penghapusan UN seluruh jenjang pendidikan, sebab cara evaluasi pada kurikulum baru menggunakan pola "authentic assessment".

Menurut Munif, salah satu anggota Tim Penyusun Kurikulum 2013, evaluasi model pilihan ganda seperti dalam UN tidak "nyambung" dengan kurikulum baru. Juga UN memiliki rantai yang sangat panjang, mulai perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi ibarat "lingkaran setan" yang susah untuk diputus.

Penghapusan UN untuk SD/MI oleh pemerintah bukan hanya membuat para siswa lega, tetapi juga disambut gembira guru-guru dan kepala sekolah, bahkan jajaran dinas pendidikan meski mereka berharap tetap ada semacam evaluasi belajar bagai para siswa kelas 6 untuk menyesuaikan standar kompetensi kelulusan.

"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur tahun depan UN SD dihapus. Penghapusan ini bisa mengurangi tingkat stres siswa kelas 6, orang tuanya termasuk para gurunya," kata Kepala SDN 1 Sidakangen, Kalimanah, Ummi Mukaromah.

Selain itu penghapusan UN ini akan menghemat biaya yang selama ini harus dikeluarkan sekolah. Kebijakan ini mendukung suksesnya Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas) sembilan tahun dari SD-SMP.

"Namun untuk menjaga mutu pendidikan perlu kendali atau kontrol terhadap siswa kelas 6 SD. Tetap perlu ada penilaian tetapi bukan UN lagi. Mungkin bisa ujian sekolah mengikuti kurikulum yang ada," ujarnya.

Source : http://www.beritasatu.com/nasional/115651-tahun-ajaran-depan-sd-bebas-dari-ujian-nasional.html